COVER TEMPO HINA POLISI, MABES POLRI AMBIL LANGKAH HUKUM ?

JAKARTA, Pantura News—Polisi merasa terhina dengan cover Majalah TEMPO Edisi Rekening Gendut. Juru bicara Mabes Polri Ijen Pol, Edward Aritonang mengatakan, polisi akan mengambil langkah hukum atas Tempo. “Cover itu sangat mencemarkan, menghina dan merusak nilai-nilai kehormatan Polri,” paparnya, Selasa (29/6), seperi dilansir TEMPO Interaktif.

SETELAH beredarnya majalah TEMPO edisi terbaru, menurut Irjen Pol Edward Mabes menerima telepon dari anggota kepolisian seluruh Indonesia. “Mereka mempertanyakan kenapa kita sepertinya bergelimang binatang,” katanya.

Edward mempersilakan TEMPO menganggap cover itu sebagai celengan babi maupun sebagai seni. Tapi bagi kepolisian, itu binatang. “Kami akan melaporkan ke langkah hukum,” tegas dia. Mabes menyayangkan cover babi itu karena seolah-olah mewakili anggota Polri. “Kami sudah korbankan nyawa, kasihan mereka disimbolkan seperti itu,” tegasnya.

Dia lebih lanjut mengatakan, langkah hukum akan dilakukan Kepala Bidang Pembinaan Hukum Mabes Polri. Selain mewakili laporan Mabes Polri Kepala Bidang Hukum, juga mewakili laporan anggota kepolisian. Namun, Edward enggan menjelaskan pasal apa yang akan dituntut ke TEMPO. “Itu silakan nanti penyidik yang melakukan,” ungkapnya.

Jenderal Polisi Diminta Buktikan Rekening Mereka Bersih
Kepala Badan Reserse Kriminal Kepolisian RI, Komisaris Jenderal Ito Sumardi mengatakan, Kepala Polri Jenderal Bambang Hendarso Danuri memerintahkan para perwira pemilik rekening mencurigakan membuat klarifikasi. “Kalau sekarang tidak tuntas, pasti isu ini muncul lagi, muncul lagi,” paparnya kepada TEMPO, Jumat (25/6) pekan lalu.

Menurut Ito, para perwira pemilik rekening jumbo itu pun diminta membuktikan bahwa transaksi keuangan mereka bersih. “Ini pembuktian terbalik. Jadi beban mereka untuk menjelaskan asal-usul transaksinya,” ujar Ito.

Soal transaksi mencurigakan itu dimuat sebagai Laporan Utama majalah TEMPO yang terbit kemarin. Menurut sumber Tempo, dokumen soal itu telah menjadi bahan gunjingan di Trunojoyo Markas Besar Kepolisian. Menurut salinan dokumen itu, enam perwira tinggi dan sejumlah perwira menengah melakukan “transaksi yang tidak sesuai dengan profil” alias melampaui gaji bulanan mereka.

Transaksi paling besar terjadi pada rekening milik Inspektur Jenderal (Irjen) Polisi Budi Gunawan, Kepala Divisi Profesi dan Pengamanan Polri. Mantan ajudan Presiden Megawati Soekarnoputri, pada 2006 melalui rekening pribadi dan rekening anaknya mendapatkan setoran Rp 54 miliar, antara lain, dari sebuah perusahaan properti.

Namun Budi Gunawan saat ditemui TEMPO di kantornya, Jumat pekan lalu, memilih tutup mulut. Dia hanya tersenyum dan berkomentar pendek, “Nanti saja, ya.” Lewat seorang bawahannya, Budi Gunawan mengaku sudah menyerahkan masalah ini kepada Kepala Badan Reserse Kriminal. “Semua berita itu tidak benar,” katanya.

Irjen Pol Badrodin Haiti kini menjabat Kepala Divisi Pembinaan Hukum Kepolisian, juga disebut melakukan transaksi mencurigakan. Menurut sumber TEMPO, dia membeli polis asuransi PT Prudential Life Assurance dengan premi Rp 1,1 miliar. Disebutkan dana tunai pembayaran premi berasal dari pihak ketiga.

Menjadi Kepala Kepolisian Wilayah Kota Besar Medan pada 2000-2003, Badrodin juga menarik tunai Rp 700 juta di Bank Central Asia Kantor Cabang Utama Bukit Barisan, Medan, pada Mei 2006. Hasil analisis rekening Badrodin juga memuat adanya setoran dana rutin Rp 50 juta setiap bulan pada periode Januari 2004-Juli 2005. Ada pula setoran dana Rp 120-343 juta. Dalam laporan itu disebutkan setoran-setoran tidak memiliki underlying transaction yang jelas.

Badrodin saat TEMPO konfirmasi, mengaku tidak berwenang menjawab. “Itu sepenuhnya kewenangan Kepala Badan Reserse Kriminal,” katanya.
Nama Irjen Polisi Sylvanus Yulian Wenas, Kepala Korps Brigade Mobil (Brimob) Polri, juga disebut dalam daftar pemilik rekening mencurigakan itu. Indikasinya, di rekening Wenas muncul pada 2005 ketika menjabat Kepala Kepolisian Daerah Kalimantan Timur. Pada 9 Agustus, isi rekeningnya pindah buku sebesar Rp 10,007 miliar ke rekening seseorang yang mengaku sebagai Direktur PT Hinroyal Golden Wing.
TEMPO merilis bahwa Wenas menolak tuduhan melakukan transaksi ilegal melalui rekeningnya. “Semua itu tidak benar. Dana itu bukan milik saya,” jelasanya seperti dikutipTEMPO.

Rekening Kepala Kepolisian Wilayah Kota Besar Semarang, Edward Syah Pernong, pun mengundang curiga. Sumber Tempo memaparkan, ketika menjabat Kepala Kepolisian Resor Jakarta Barat, ia menerima setoran dari Deutsche Bank Rp 470 juta dan Rp 442 juta pada Agustus dan September 2005. Pada 15 September 2005, dia menutup rekening dengan saldo terakhir Rp 5,39 miliar. Edward mempersoalkan asal-usul data itu hari Kamis (24/6) pekan lalu. mengatakan: “Data itu bohong. Itu fitnah,”

Ketua Indonesia Police Watch, Neta S. Pane, mendorong upaya pembuktian terbalik dari perwira yang memiliki rekening mencurigakan. Sebab, ia menyatakan jenderal yang memiliki kekayaan melimpah patut dipertanyakan. Dia menambahkan, “Jika hidup hanya dari gaji, sampai kiamat mereka tidak akan pernah bisa kaya, ” tegasnya. TEMPO Intereaktif

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: