Diborong Orang Berseragam Polisi, Majalah Tempo Edisi Terbaru Dicetak Ulang

JAKARTA, Pantura News—PT Tempo Inti Media Tbk, penerbit Majalah TEMPO memutuskan akan mencetak ulang Majalah Tempo Edisi Terbaru menyusul lenyapnya majalah itu dari peredaran, Senin (28/6) dini hari. ” Kami memutuskan mencetak ulang agar bisa diedarkan lagi ke pembaca ” kata Windalaksana, Kepala Divisi Sirkulasi, Distribusi dan Pemasaran Tempo di Jakarta.

SEPERTI diketahui, puluhan ribu eksemplar majalah Tempo edisi terbaru hilang dari pasaran sejak Senin subuh. Beberapa pemborongnya adalah orang yang berseragam polisi dan memakai mobil polisi.

Terbit dengan Cover “Rekening Gendut Perwira Polisi”, majalah Tempo pekan ini bergambar seorang polisi tengah memegang seutas tali yang diikatkan pada tiga babi kecil berwarna merah muda diduga menjadi sebab habisnya majalah Tempo dari peredaran. Edisi kali ini membuat laporan utama soal rekening jumbo para jenderal polisi. Laporan ini juga memuat indikasi rekening para jenderal di Mabes Polri yang mencurigakan.

Hasil analisis Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan menemukan ada puluhan miliar rupiah yang masuk ke rekening para Jenderal Polisi. Duit itu mengalir dari pihak ketiga tanpa kejelasan aktivitas bisnis yang dilakukan.

Menurut Winda, sejumlah agen telah melaporkan kepada Tempo, adanya pembelian besar-besaran oleh sejumlah kelompok, begitu majalah bergambar polisi dengan tiga babi kecil itu akan dijual.
Pembelian itu dilakukan Senin dini hari hingga menjelang subuh, langsung ke sejumlah agen dan distributor. Edisi yang lenyap dari pasaran itu adalah edisi eceran untuk pembaca. Namun khusus untuk para pelanggan, kata Winda, tetap aman. “Karena itu, untuk kepentingan publik secara luas, kami putuskan untuk cetak ulang” kata Windalaksana.

Soal berapa yang akan dicetak, Winda belum bisa memastikan karena sedang melakukan pendataan. Namun ia memastikan, edisi terbaru bisa didapat di lapangan, paling telat Selasa (29/6).

Hilang di Pasaran, Majalah Tempo Diborong
Majalah Tempo Edisi terbaru, Senin (28/6) yang hilang dari pasaran ternyata diborong. Salah satu agen Majalah Tempo di kawasan Pramuka mengaku, tumpukan majalah yang baru keluar dari percetakan itu sudah diborong sejak pukul 04.00 WIB oleh sekelompok orang.
“Tadi subuh, sudah diborong orang mirip polisi. Tapi mereka tidak berpakaian dinas” kata Saragih kepada Tempo, Senin (28/6). Membawa mobil, tumpukan majalah itu diangkut dari lapak Saragih di kawasan Pramuka, sebelum Tempo sempat beredar di lapangan. Saragih mengaku, menerima 700 eksemplar Majalah Tempo dan pagi itu sudah tak tersisa satu pun di Lapak.

Kepala Divisi Sirkulasi dan Distribusi TEMPO Windalaksana membenarkan puluhan ribu majalah edisi terbaru hilang di pasaran sejak Senin Subuh. Menurut dia, para agen menelpon dirinya. Edisi yang hilang dari pasaran adalah edisi eceran. “Khusus para pelanggan dipastikan akan tetap aman” ujarnya.
Sejauh ini Tempo belum berhasil meminta konfirmasi dari juru bicara Mabes Polri soal apakah yang memborong majalah tersebut dari kalangan polisi atau bukan.

Di Harmoni, Polisi Borong 2425 Eksemplar Majalah Tempo
Sebanyak 2425 Eksemplar Majalah Tempo dari tiga agen majalah dan koran di lapak koran depan Hotel Melati Jalan Hayam Wuruk, Jakarta Pusat, diborong polisi berpakaian preman pagi tadi. “Mereka reserse. Berjumlah 10 orang,” kata salah satu agen majalah yang menolak disebut namanya.

Menurut dia, mereka sudah datang pada pukul 02.30 WIB, sebelum majalah didistribusikan. Dalam transaksi, Rozak menceritakan, polisi berani bayar berapa saja demi memborong majalah Tempo berjudul “Rekening Gendut Perwira Polisi” itu.
Akhirnya tercapai kesepakatan harga per-eksemplar yang seharusnya Rp 27 ribu menjadi Rp 40 ribu. Mereka membeli majalah dari agen Rozak sebanyak 1850 eksemplar, agen Sodik 500 eksemplar dan agen Purba sebanyak 75 eksemplar. “Semuanya mencapai Rp 100 jutaan. Dan dibayar cash,” ungkapnya.

Saat membeli, agen itu menceritakan salah satu anggota polisi sempat menggertak dirinya. “Mereka maksa membeli,” ceritanya. Dia mengira polisi itu berasal dari Polda atau Mabes Polri.

Satgas Mafia Hukum Akan Bahas Raibnya Majalah TEMPO
Anggota Satuan Tugas Anti Mafia Hukum, Mas Achmad Santosa menyatakan dirinya sudah mengetahui perihal hilangnya Majalah Tempo Edisi 28 Juni – 4 Juli 2010 dari pasaran hari ini. “Ya, saya tahu,” ujarnya pada Tempo, Senin (28/6).

Ia berjanji akan membawa masalah ini ke dalam rapat Satgas Anti Mafia Hukum. “Saya akan melakukan koordinasi ke dalam,” kata dia. Koordinasi ini, diantaranya akan membahas dan menindaklanjuti temuan Majalah Tempo atas rekening mencurigakan oknum Kepolisian. “Kita lihat hasil rapat,” kata pria yang akrab dipanggil Ota ini.
Ota juga menyatakan bahwa Satgas memang selalu mengikuti isu yang berkembang di masyarakat. “Semua isu-isu yang berkembang akan kami bicarakan,” ujarnya.

Polisi Belum Tahu Ada Aksi Borong Majalah Tempo
Markas Besar Kepolisian mengaku belum mengetahu ada aksi borong Majalah Berita Mingguan Tempo pada Senin (28/6) dini hari tadi. “Kami belum mendengar kabar (ada aksi borong) itu,” kata Wakil Kepala Divisi Humas, Brigadir Jenderal Zainuri Lubis, kepada Tempo. Ia juga menyebut tidak tahu ada keterlibatan oknum polisi dalam aksi boromg itu.

Seperti diketahui, Majalah Tempo Edisi Terbaru yang terbit Senin, (28/6) hilang dari pasaran sejak pukul 04.00 WIB. Sejumlah pelanggan dan pembaca menelpon ke kantor redaksi Majalah Tempo, Jalan Proklamasi 72 Jakarta Pusat menanyakan kenapa majalah ini tak terlihat di pasaran.

Di Pasar Minggu, Majalah Tempo Dibandrol Rp 40 Ribu
Beberapa lapak yang masih punya stok seperti di Pasar Minggu, Jakarta Selatan, berani dibandrol Rp 40 ribu per eksemplar. “Ini enggak seperti biasanya,” kata Erna, pengecer Surat Kabar di Jalan Pertanian, Pasar Minggu Jakarta Selatan.

Menurut Erna, dia hanya mendapatkan satu eksemplar dari agen. Biasanya dia menerima tiga eksemplar. Itu pun, langsung terjual. “Hari ini ada 10 orang yang mencari. Mereka berani membeli Rp 40 ribu,” katanya sambil tertawa. Harga banderol Majalah Tempo sendiri Rp 27 ribu.

Lain hal dengan Udin, pengecer surat kabar di Jalan Raya Ragunan, Jakarta Selatan. Dia akan menjual majalah sesuai dengan banderol harga. “Nggak mau saya dilebih-lebihkan,” katanya. Dia mengatakan, pagi tadi ada seorang perempuan yang berani memborong majalah. Padahal biasanya dia hanya menjual paling banyak tiga eksemplar. “Kalau ada 50 eksemplar juga dibeli sama dia,” tuturnya. TempoInteraktif

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.